Oleh: Ustadz AMSORI
BAROKAH & TABARUK
Kita sering mendengar orang-orang mengucapkan ungkapan “minta barokah”, “ingin memperoleh barokah” ... dst,ungkapan yang semacam itu. Apa arti barokah?
Banyak ustadz yang mengatakan bahwa makna barokah atau berkah adalah bertambahnya kebaikan, berasal dari kata birkah dalam bahasa Arab yang artinya kolam. Kehidupan orang yang penuh berkah adalah seperti kolam yang banyak terhimpun di dalamnya kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain. Kegiatan orang mengambil berkah disebut dengan tabaruk.
Makna Tabarruk
Secara bahasa, Tabaruk berasal dari bahasa arab yang artinya adalah minta barakah, dan barakah disini mempunyai makna “tambah” dan pencerahan atau saadah [kebahagiaan]. Lihat Lisanul Arab, Juz 10, Halaman 390. atau Shihahul Lughah, Juz 4, Halaman 1075. atau Annihayah, Juz 1, Halaman 120.
Sementara Tabarruk secara istilah mempunyai makna, meminta barakah melalui sesuatu atau seseorang atau apapun yang diperbolehkan oleh Allah swt. Misalnya, kita mencium tangan ibu kita, atau mencium tangan bapak kita, atau mencium kuburan kanjeng nabi saw dengan tujuan minta doa dan minta barakah.
TABARUK YANG DIPERBOLEHKAN
1. Bersifat syar’i, artinya sesuai denga tuntunan Allah SWT (Al-Qur’an) dan contoh dari Rasulullah SAW (As-Sunnah/Hadits). “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia menang dengan kemenangan yang besar.” [Al-Ahzaab: 70-71]
2. Terhadap perkara-perkara yang nyata atau kasat mata, misalnya masjid, majelis ilmu, Masjidil Haram, Masjid Nabawi (Madinah), dll.
Kalimat barakah sendiri dipakai dalam Al-quran dengan berbagai lafadz dan bentuk. Terkadang makna tabaruk oleh Al-quran dipakai untuk:
1. Seseorang, Misalnya: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. dan ada (pula) umat-umat yang kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), Kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari kami.” Al-quran, Surah Hud, Ayat 48.
atau :”Dan dia menjadikan Aku seorang yang diberkati di mana saja Aku berada, dan dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama Aku hidup. Surah Maryam, Ayat 31. dll
2. Tempat, : ”Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Surah Al-Israa’, ayat 1.
3. Waktu: “sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. Surah Ad-dhuhaan, ayat 3.
4. Untuk Waktu dan Tempat :“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Surah Ali Imran, Ayat 96.
MAJELIS ILMU
Majelis ilmu adalah salah satu sarana untuk bertabaruk; sebagaimana penjelasan berikut ini.
[1]. Menuntut Ilmu Syar’i Wajib Bagi Setiap Muslim Dan Muslimah
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”[3]
Imam al-Qurthubi rahimahullaah menjelaskan bahwa hukum menuntut ilmu terbagi dua:
Pertama, hukumnya wajib; seperti menuntut ilmu tentang shalat, zakat, dan puasa. Inilah yang dimaksudkan dalam riwayat yang menyatakan bahwa menuntut ilmu itu (hukumnya) wajib.
Kedua, hukumnya fardhu kifayah; seperti menuntut ilmu tentang pembagian berbagai hak, tentang pelaksanaan hukum hadd (qishas, cambuk, potong tangan dan lainnya), cara mendamaikan orang yang bersengketa, dan semisalnya. Sebab, tidak mungkin semua orang dapat mempelajarinya dan apabila diwajibkan bagi setiap orang tidak akan mungkin semua orang bisa melakukannya, atau bahkan mungkin dapat menghambat jalan hidup mereka. Karenanya, hanya beberapa orang tertentu sajalah yang diberikan kemudahan oleh Allah dengan rahmat dan hikmah-Nya.
Ketahuilah, menuntut ilmu adalah suatu kemuliaan yang sangat besar dan menempati kedudukan tinggi yang tidak sebanding dengan amal apa pun.[4]
[2]. Menuntut Ilmu Syar’i Memudahkan Jalan Menuju Surga
Setiap Muslim dan Muslimah ingin masuk Surga. Maka, jalan untuk masuk Surga adalah dengan menuntut ilmu syar’i. Sebab Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) atas orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah memudahkan atasnya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah menutupi (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut senantiasa menolong saudaranya. Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tidak dapat dikejar dengan nasabnya.” [5]
Di dalam hadits ini terdapat janji Allah ‘Azza wa Jalla bahwa bagi orang-orang yang berjalan dalam rangka menuntut ilmu syar’i, maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju Surga.
“Berjalan menuntut ilmu” mempunyai dua makna:
Pertama : Menempuh jalan dengan artian yang sebenarnya, yaitu berjalan kaki menuju majelis-majelis para ulama.
Kedua : Menempuh jalan (cara) yang mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu seperti menghafal, belajar (sungguh-sungguh), membaca, menela’ah kitab-kitab (para ulama), menulis, dan berusaha untuk memahami (apa-apa yang dipelajari). Dan cara-cara lain yang dapat mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu syar’i.
[Disarikan dari KULTUM Ustadz AMSORI; dan dilengkapi dengan bahan-bahan dari berbagai sumber].
DKM Ash-Shofa
Monday, August 8, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment