Judul : Bersyukur
Penceramah : Ustadz Andi Supriyadi Maparema, ST
Al-Ghazali menulis dalam Ihya ‘Ulum al-Din sebuah kitab dengan judul Kitâb Kasr al-Syahwatayn, Buku tentang Menghancurkan Kedua Syahwat. (Dalam bahasa Arab dua syahwat itu terdiri dari syahwat seks dan syahwat perut). Dikisahkan ketika Nabi SAW ditawari semua kenikmatan dunia, ia menolaknya dan berkata, “Tidak, aku ingin lapar sehari dan kenyang sehari; pada waktu lapar aku bisa bersabar dan merendahkan diriku, pada waktu kenyang aku bisa bersyukur.”
Alkisah, seorang penguasa yang dikenal sebagai Sultan Mahmud. Pada suatu hari Sultan membagi mentimun kepada pelayanannya. Baru satu suap Sultan memuntahkannya karena mentimun itu terasa pahit. Kemudian Sultan melihat sang pelayan sedang asyik dan dengan tenang menikmati mentimun. Maka, Sultan bertanya kepada pelayan.
“Apa kamu tidak merasakan rasa pahit buah mentimun itu?”
“Saya tidak merasakannya, Tuan telah memberi hamba buah mentimun yang manis”, jawab pelayan.
Pada kejadian ini, Sultan melihatnya hanya sebatas penglihatan pada buah mentimun. Sementara itu, Pelayan melihat buah mentimun dan juga melihat siapa yang telah memberi mentimun itu.
Demikianlah, ketika Rasulullah bersyukur ketika merasa kenyang, maka pada hakekatnya syukur itu ditujukan kepada Siapa yang membuat kenyang.
Demikian juga ketika berdoa; berdoa tidak berarti statis dan diam tidak melakukan upaya apa-apa; tetapi sebuah doa harus diiringi dengan ikhtiar atau usaha yang mengarah pada terpenuhinya doa tersebut.
Ketika manusia beriman mengatakan “aku bersyukur” harus ada pembuktiannya yang menunjukkan bahwa dia bersyukur. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan perbuatan baik sesuai perintah Allah dan tuntunan Rasulullah. Misalnya saja dengan menginfaqkan sebagaian hartanya, shalat, berakhlak baik kepada keluarga, tetangga, dan sahabat-sahabat-nya, dsb.
[Catatan: Sebagaimana firman-Nya, Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Ar-Ra’du (13)].
Kesimpulan: Bersyukur tidak berhenti pada apa yang telah kita nikmati, tetapi harus sampai pada Siapa yang telah memberi kenikmatan tersebut.
Wallahu’alam.
Friday, August 19, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment