Judul : Nuzulul Qur’an
Penceramah : Ustadz Syaiful Anwar
Malam ke 17 bulan Ramadhan bersamaan dengan malam peringatan Hari Kemerdekaan RI yang ke-66.
Malam ke17 adalah malam yang istimewa ditandai dengan peristiwa nuzulul Quran, peristiwa untuk pertama kali diturunkan Al Qur’an, kitab suci yang menjadi petunjuk dan pedoman hidup umat Islam. Umat Islam seharusnya memposisikan Al-Quran ke dalam hati sanubarinya, sebagaimana teladan Rasulullah SAW yang menjadikan Al-Qur’an sebagai jiwa dari akhlak beliau. Ketika Aisyah Ra ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw, maka dia menjawab, "Akhlaknya adalah Al Qur'an." (HR. Abu Dawud dan Muslim)
Ramadhan sebagai syahru Qur’an; umat Islam giat membaca Al-Qur’an, mentadaburinya, menghayatinya, dan akhirnya dapat mengamalkannya. Pada waktu membaca Al-Qur’an hendaknya kita seolah-olah ingin meneladani Rasulullah, meneladani akhlak beliau yang seluruhnya mencerminkan kandungan Al-Qur’an, sebagaimana hadits Aisyah tersebut di atas.
Namun sebagian besar umat Islam hanya sekedar membaca, tidak mampu menghayati dan mengamalkan Al-Qur’an. Al-Qur’an tersisa kecuali hanya tinggal tulisannya saja. Rasulullah telah mensinyalir kondisi tersebut sebagaimana digambarkan dalam sebuah riwayat : "Akan datang suatu masa untuk ummatku ketika tidak lagi tersisa dari Al Qur’an kecuali mushafnya dan tidak tersisa Islam kecuali namanya dan mereka tetap saja menyebut diri mereka dengan nama ini meskipun mereka adalah orang yang terjauh darinya." (Ibnu Babuya, Tsawab ul-A mal).
Sebagian umat lainnya mengacuhkan Al-Qur’an, sebagaimana telah disinyalir oleh Nabi: Berkatalah Rasul, “Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini sebagai sesuatu yang diabaikan.” (QS al-Furqan [25]: 30).
[Meninggalkan Al-Qur'an adalah salah satu masalah besar yang menimpa umat Islam. Umat Islam banyak yang meninggalkan Al-Qur'an, dalam arti tidak memahami, tidak membaca, tidak mentadaburi, tidak membaca, tidak mengamalkan dan tidak menjadikan pedoman hidup dalam kehidupan mereka]. [ http://www.dudung.net/artikel-islami/realita-umat-islam-sekarang.html]
Dan apabila umat Islam telah melalaikan Al-Qur’an, maka niscaya kehebatan, kemuliaan, dan kewibaan islam sebagai agama yg diridhai Allah akan dicabut.
Hilangnya semangat berkorban – jiwa, raga, harta, dan sebagainya – di tengah umat Islam bersamaan dengan munculnya sikap cinta dunia (hubbud-dunya). Sikap ini muncul karena ilmu yang salah, yang melihat dunia sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang kehidupan akhirat. Kapan saja sikap ini muncul, maka umat Islam tidak akan pernah mengenyam kejayaan. Rasulullah saw sudah mengingatkan, umat Islam akan menjadi sampah (buih), ketika sudah terjangkit penyakit “al-wahnu” (hubbud-dunya dan takut mati) dalam diri mereka. [Catatan: penceramah menyampaikan Hadits lain, yang tidak diketemukan teks terjemahan lengkapnya].
Allah berfirman : “Wahai manusia, telah datang kepadamu (Al-Quran ) Pemberi nasehat dari Tuhanmu, penyembuh dari apa yang ada didadamu, petunjuk dan Rahmat untuk orang-orang yang beriman”. (QS Yunus : 57)
Berkaitan dengan peringatan Hari Kemerdekaan; bagi umat Islam yang beriman kepada Allah tidak ada lain kecuali bersyukur atas nikmat kemerdekaan yang telah dikaruniakan Allah kepada kita. Nikmat yang berasal dari Allah, bukan dari yang lain, selain Allah.
Di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 diawali dengan kalibat Berkat Rahmat Allah Yang Maha Esa; menunjukkan bahwa para pejuang kemerdekaan mengakui terhadap kekuasaan Allah. Bahkan banyak dari para pejuang kita yang berjuang merebut kemerdekaan sambil berdakwah. Oleh karena itulah, kita harus bersyukur atas nikmat kemerdekaan ini, bukan malah kufur nikmat, dengan melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan perintah Allah dan tuntunan Rasulullah.
Kita harus memperhatikan peringatan Allah apabila kita berbuat kufur nikmat. Allah akan mencabut nikmat tersebut dan bahkan akan menurunkan bencana. Sebagaimana firmannya: “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tentram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat,” (QS an-Nahl: 112)
Janganlah kita seperti yang dikawatirkan, baru sadar ketika nikmat itu dicabut atau hilang dari genggaman. Inilah karakter kebanyakan manusia sebagaimana yang difirmankan Allah, ”Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya” (QS al-’Adiyaat 6)
[Imam Hasan al-Bashri rahimahullah menyebutkan bahwa maksud ’lakanuud’ (sangat ingkar) adalah yang suka mengingat musibah, namun melupakan nikmat.” Saat musibah datang, atau ada sesuatu yang hilang darinya, maka seakan ia tak pernah memiliki apa-apa selain yang hilang itu. Maka bagaimana Allah akan memberikan nikmat tambahan jika mereka hanya memandang nikmat dengan sebelah mata? Bagaimana pula mereka akan bahagia jika mereka tak mampu mendeteksi segala nikmat yang disandangya? Begitulah siksa bagi orang yang kufur atas nikmat Allah di dunia, sebelum nantinya merasakan pedihnya siksa di akhirat].
Oleh karena itu, marilah kita ikat nikmat ini dengan Syukur. Nikmat kemerdekaan yang luar biasa ini janganlah dibalas dengan kekufuran. Para pejuang telah mengorbankan harta, jiwa, dan raga; banyak para pejuang di samping berperang melawan penjajah juga berdakwah mengagungkan agama Allah; dan mereka selalu berdoa sambil memanfaatkan intelektual mereka untuk mengatur strategi perang.
Rasulullah telah meninggalkan contoh bagaimana merebut kemenangan dengan selalu diiringi shalat. Hayya 'alash sholah, Hayya 'alash sholah .... Hayya 'alal falah, Hayya 'alal falah ....!
Dengan selalu bersyukur, semoga Ibadah shaum kita diterima dan diakui oleh Allah SWT.
Wallahu’alam ...
Thursday, August 18, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment