Judul : Menjadi Muslim Yang Sempurna
Penceramah : Ustadz Kuswanto Alwi, SH
Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semuanya kedalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagimu."(Qs. al-Baqarah 2:208)
Tujuan Allah mensyariahkan Ramadhan untuk kita menjadi muslim seutuhnya.
Maka dari itu, tentu benar sabda Baginda Nabi SAW, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra., "Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan." Para Sahabat heran, bagaimana mungkin ada orang yang enggan masuk surga? Tentu tidak masuk akal! Karena itu, mereka kemudian bertanya, "Ya Rasulullah, siapakah yang enggan masuk surga?" Baginda menjawab, "Mereka yang menaatiku pasti bakal masuk surga. Sebaliknya, mereka yang tidak mau mengikutiku, itulah yang enggan masuk surga." (HR Bukhari dan Ahmad).
Orang-orang yang dijamin masuk surga adalah orang-orang yang taat, yang patuh, dan orang-orang yang memegang teguh sunnah Rasulullah. Orang-orang yang dikatakan enggan masuk surga adalah orang-orang yang maksiat, tidak patuh dan tidak mau mengikuti sunnah Rasulullah.
Ada hubungan yang erat antara maksud Hadits dengan kandungan ayat Al-Quran tersebut di atas.
Ketika kita tidak benar2 menjadi muslim sesungguhnya, maka
Ramadhan sudah berkali2 kita alami, tapi adakah perubahan dalam diri kita
Sebagian ramadhan kegiatan rutin tahunan; tidak memberikan bekas. Kenapa? Karena belum menjadi muslim yang sempurna.
Jika tidak jadi muslim sempurna kemungkinan kita tidak akan diakui sebagai umat Rasulullah; dan tidak mendapat syafaat dari Rasulullah. Bagaimana supaya diakui sebagai umat Rasulullah? Bagaimana untuk menjadi muslim sempurna itu? Kita kembali pada kandungan ayat-ayat tersebut di atas:
1 tunduk patuh kepada ketentuan Allah dan Rasul-Nya, tanpa protes; sebagaimana para sahabat selalu berkata kepada Rasulullah, samina wa atona – kami dengar dan kami patuhi.
2 tidak mengikuti, bisikan-bisikan, langkah-langkah setan; dalam bulan Ramadhan kita dilatih memanfaatkan waktu secara produktif, dengan hal-hal yang diridhai Allah; tidak mengisinya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, sebagaimana hal-hal yang disukai setan.
[Dalam ayat lain ada penjelasan bagaimana jalan untuk mencapai Islam Kaffah. Allah berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling darinya, padahal kamu mengerti." (Qs. al-Anfaal 8:20)]
Bagaimana kita memahami bahwa puasa merupakan tugas agung dan ibadah yang istimewa, sehingga Ramadan menjadi mulia dengannya? Karena Allah SWT mengkhususkan ibadah puasa untuk-Nya tidak sebagaimana amal selainnya. Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi: dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata: bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, "Semua amal anak Adam (manusia) untuknya kecuali puasa. Karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya." [Muttafaq’alaih]
Kalo ibadah2 yang lain orang dapat menilai ibadah kita; misalnya shalat, shadaqah, haji; tapi puasa hanya Allah yang tahu. Oleh karena itu kita tidak peduli pendapat orang lain ketika dia yakin memegang syariat Allah.
Allah SWT mensyariatkan ibadah puasa agar kita “wa laa tattabi’uu khuthuwaatisy syaithaan” – dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan; (1) mengetahui sejauh mana kepatuhan kita kepada ketentuan Allah; dan (2) dengan puasa agar manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya, karena erat kaitannya antara pengendalian hawa nafsu dengan perilaku makan kita.
Rasulullah selalu mencontohkan pola makan yang baik dan sehat. Sebagaimana sabda beliau, “Anak Adam tidak memenuhkan suatu tempat yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah beberapa suap yang dapat memfungsikan tubuhnya. Kalau tidak ditemukan jalan lain, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan.” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
Dengan kata lain, ibadah puasa membawa kita kepada kesadaran tentang apa keinginan Allah, yaitu agar kita dapat menjadi muslim yang sempurana dengan jalan mematuhi perintah-perintah-Nya dan tidak mengikuti langkah-langkah setan.
Wallahu’alam.
Tuesday, August 16, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment